Sudahkah mengulurkan Tangan Anda untuk bersatu dengan ” SERIBU TANGAN CINTA” ? Klik disini
Salam STC
Sudahkah mengulurkan Tangan Anda untuk bersatu dengan ” SERIBU TANGAN CINTA” ? Klik disini
Salam STC
Ditulis dalam Admin |
A Circle of Love
A Thousand Hands of LOVE to be shared with…
A Thousand Hearts of LOVE to be shared with…
A Thousand Minds of LOVE to be shared with…
Let all those thousand of hands, hearts, and minds of LOVE are bounded together to reach another thousands of hands, hearts, and minds that full with LOVE…
So that our DREAM will come TRUE…
To make A CIRCLE of LOVE that has no end…
*********
This Olympic Official Anthem in 1988, Hand in Hand by Koreana, is my most favourite anthem ever. Either the lyrics and the music are so nice and touching to be listened to and to be reflected to. The lyrics contain some high quality value of life: A TOGETHERNESS in the spirit of UNITY, AN UNDERSTANDING in order to RESPECT to each other. A HOPE that only in LOVE we can BREAK the walls that come between us for all the time.
Simplicity and sincerity are the key to succeed our dream. Nothing is impossible as long as there is a WILL.
We do care, We Can!
This blog is dedicated to Seribu Tangan Cinta (STC). We’ve just started it and we need to go through a process. Nothing happens instantly.
Ditulis dalam Artikel, seribu masa depan, Sosbud | Bertanda A Circle of Love, Hope, Love, Respect, Simplicity, Sincerity, Togetherness, Understanding, Unity | Tinggalkan sebuah Komentar »

Ahmad Dahlan usai melempar baru ke lubang di jalan. (Dok. Arek Adhitya/Lampung TV)
Namanya keren, Ahmad Dahlan. Tetapi nasibnya tidaklah sebagus pendiri Muhammadiyah itu. Ahmad Dahlan ini hanyalah seorang bocah yang terlahir dari keluarga miskin. Sehingga, anak sekecil ini harus banting tulang demi bisa terus sekolah. Jelas dia tidak mampu mendirikan banyak lembaga pendidikan seperti KH Ahmad Dahlan bersama Muhammadiyah-nya. Entah nanti.
Kemarin, persis pada Hari Pendidikan Nasional, dia tampak sibuk bekerja. Bocah kelas 3 SD ini menimbun ruas jalan berlubang dengan koral yang diambilnya dari sungai dekat jalan raya itu. Atas tenaganya itu, bocah ingusan bertubuh gempal ini meminta uang dari para sopir pengguna jalan.
Ahmad Dahlan mengumpulkan duit receh di tengah bising knalpot dan debu beterbangan yang diganggu roda. Jalan Lintas Timur Sumatera, Simpang Pematang, Kabupaten Mesuji, Lampung, tempatnya bekerja merupakan jalan padat. Mobil-mobil berbadan besar, baik dari Lampung maupun dari luar daerah, melaju di jalan negara ini.
Ditulis dalam Reportase, Serba Serbi, seribu masa depan, Sosbud, stc | Bertanda firman seponada, seribu masa depan, Seribu Tangan Cinta, stc | Tinggalkan sebuah Komentar »

ilustrasi ngEDIT dari Google
Ada sebuah lagu yang bercerita
tentang bagaimana panjang dan berlikunya sebuah jalan
yang tak seorangpun tahu
entah mengarah kemana
dan berpesan bahwa
dalam persaudaraan
tak ada ruginya
berbagi cinta
laksana seribu tangan cinta
sehingga seberat apapun perjalanan
tak jadi masalah
karena tak dipermasalahkan
tak membebani
karena tak dijadikan beban
Ditulis dalam seribu masa depan, Sosbud | Bertanda Kang Iwan, seribu masa depan, stc | 2 Komentar »
MUNGKIN SUARA INI TAK TERDENGAR MERDU
NAMUN CUKUP PILU BAGI MATA DAN TELINGAMU
ITUPUN BILA KAMU MELIHATKU…..
DAN SUDI UNTUK MENDENGARKANKU…..
AKU BERNYANYI BUKAN KARENA HOBIKU
TAPI KARENA TUNTUTAN PERUTKU
Ditulis dalam Sastra | Bertanda anak jalanan, Budi Van Boil, seributangan cinta, stc | 2 Komentar »
Aku jadi terngiang pidato para pemuka negeri ini yang tidak lepas menyebutkan kata “rakyat” dalam, demi kesejahteraan rakyat, keinginan rakyat, dukungan rakyat, pemberdayaan rakyat, untuk rakyat, sementara rakyat bengong, siapa yang dimaksud mereka sebenarnya.
Ditulis dalam Artikel, seribu masa depan, Sosbud | Bertanda kit rose, liliwangi, Seribu Tangan Cinta | 1 Komentar »
Di jalanan panas
Langkah-langkah kecilmu yang penuh peluh
Adalah penebus riangnya
Masa kanakmu yang terampas.
Gurumu, adalah getirnya
Kehidupan kota, dimana hidupmu
Jadi pertaruhan.
Ditulis dalam Sastra, seribu masa depan, stc | Bertanda anak jalanan, Imagina, Seribu Tangan Cinta | 5 Komentar »
Luri dan Ratih. Teteh-Dede’, Kakak-Adik. ketika itu berumur 12 dan 4 tahun. Hidup bersama nenek mereka dan sepasang jompo yang tak lagi bisa melihat. Sepasang jompo ini adalah paman-bibi dari nenek Luri dan Ratih.
Mereka tinggal di bedeng tua yang mulai menggubuk. Bedeng itu dihuni dua keluarga. Yang pertama, tadi, Luri-Ratih bersama 3 orang tua. Satu keluarga lagi, sepasang orang tua, yang sudah thuyuk-thuyuk, tapi tetap bersemangat kerja.
Keseluruhan, bedeng berdinding bilik bambu yang bila angin barat datang, rumah bergoyang itu, di huni 7 orang. Lima perempuan, 2 aki-aki.
—————————————
Ditulis dalam Artikel | Bertanda anak | 2 Komentar »